Polling

Bagaimana Pendapat Anda mengenai kinerja DKK Sukoharjo?

Shoutbox
Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak

1. Pelayan Kesehatan Antenatal

Cakupan pelayanan antenatal dipantau melalui pelayanan kunjungan baru ibu hamil ( K1 ) untuk melihat akses dan pelayanan kesehatan ibu hamil yang sesuai standar yaitu minimal berkunjung 4 kali selama masa kehamilan (K4).kunjungan selama masa kehamilan ini dengan distribusi sekali pada triwulan pertama dan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga. Pelayanan antenatal kepada ibu hamil yang diberikan oleh petugas kesehatan meliputi penimbangan berat badan,pemeriksaan kehamilan,pemberian tablet besi,pemberian iminisasi TT, pemeriksaan tensi,/tekanan darah dan konsultasi.

Cakupan K4 tahun 2009 sebesar 92,49 % dan capaian ini berada di bawah SPM sebesar 95 %, dan juga menurun dibandingkan capaian tahun 2009 sebesar 92,81 %.

Deteksi resiko tinggi ibu hamil tahun 2009 adalah 20% sebesar 3.007 ibu hamil resiko tinggi.capaian resiko tiggi ibu hamil tahun 2009 ini sesuai target yaitu sebesar 20 %.diharapkan dengan semakin besarnya cakupan deteksi resiko tinggi ibu hamil akan dapat segera diambil langkah antisipasi kemungkinan terjadinya kematian.seluruh ibu hamil resiko tinggi yang terdeksi dirujuk ke pelayanan lebih atas.

Salah satu pelayanan  pada ibu hamil adalah pemberian tablet besi.cakupan pemberian tablet besi Fe 1 pada ibu hamil tahun 2009 sebesar 99,08 % dan cakupan pemberian tablet Fe 3 sebesar 87, 55 %. Pemberian tablet besi pada ibu hamil merupakan salah satu upaya untuk mencegah timbulnya anemia pada ibu hamil, karena pada sebagian besar kematian ibu maternal salah satu penybabnya adalah anemi

Pelayanan terhadap ibu dan bayi adalah pemberian vitamin A. Dari 14.380 orang ibu nifas yang terlaporkan 94,75 % mendapatkan tablet vitamin A.

Upaya perlindungan ibu dan bayi terhadap kemungkinan tetanus pada saat persalinan dilaksanakan melalui pemberian iminisasi TT kepada ibu hamil. Cakupan imunisasi TT1 dan TT2

Ibu hamil tahun 2009 masing-masing sebesar 14,05 % dan 12,29 %.rendahnya cakupan TT ibu hamil perlu mendapat perhatian lebih serius. Salah satu penyebabnya rendahnya.

Cakupan TT adalah pelaporan yang sulit didapat dari pelayanan swasta, sehingga perlu dicari suatu mekanisme untuk mendapat data yang akurat dari pelayanan swasta.

2. Pertolangan Persalianan, Kunjungan Neonates dan Bayi

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan tahun 2009 sebesar 96, 68 %. Hasil ini menunjukkan bahwa peran dukun sebagai penolong persalinan tradisional sudah hampir tidak ada. Cakupan ini sudah mencapai target apabila dibandingkan dengan target SPM sebesar 90 %.

Cakupan kunjungan neonatal ( KK ) tahun 2008 sebesar 98, 11 %. Cakupan KN ternyata lebih besar dari cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 96,,68 %, hal ini menunjukkan atau dapat diasumsikan bahwa terdapat kunjungan persalinan dari luar wilayah, atau dari perantau. Adanya kesenjangan data ( terutama di Puskesmas Bulu dan Nguter) antara cakupan KN dan Pesalinan Nakes harus dapat dicari penyebabnya, apakah betula tenaga kesehetan penolong persalinan tidak mengunjungi neonatal atau adanya kelamahan Dalam system pencatan dan pelaporan.

Neonatal resiko tinggi yang terdeteksi sebanyak 1.391 anak atau 10,15 % dan seluruhnya dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan tingkat lanjut.

Cakupan kunjungan bayi tahun 2009 sebesar 104 %. Hasil cakupan yang melebihi 100% harus dievaluasi lagi terhadap penentuan target sasaran pada awal tahun, dan target SPM ( Berat Badan Lahir Lemah) pada tahun 2009 dilaporkan sebanyak 382 bayi.jumlah ini menurun 23,6 % dibandingkan tahun 2008 sejumlah 500 bayi. Penyebab terjadinya BPLR harus diidentifikasi lebih lanjut karena hal ini dapat disebabkan salah satunya oleh karena kualitas ANC yang masih dibawah standar.

3. Pelayanan Kesehatan  Anak dan Balita

3.1. Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Blita dan Prasekolah

Salah satu upaya mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan balita adalah melalui program pelayanan kesehatan anak, di antaranya adalah pemberian vitamin A. cakupan pemberian vitamin A pada balita usia 6 – 11 bulan tahun 2009 sebesar 98,74 %, hasil ini menurun dibandingkan tahun 2008 sebesar 98,9 %. Bila dibandingkan dengan hasil cakupan kunjungan bayi tahun 2009 sebesar 104 %, maka tidak semua bayii mendapatka vitamin A.

Sedangkan pemberian Vitamin A dua kali ( 2X ) untuk balita tahun 2009 sebesar 98,71 %, hasil ini meningkat apabila dibandingkan hasil tahun 2008 sebesar 98,11 %.

Pertumbuhan dan perkembangan anak balita, pra sekolah, SD sampai remaja perlu mendapatka perhatian karena pada masa inilah terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Cakupan deteksi anak balita dan pra sekolah tahun 2009 sebesar 100% dari 19.968 anak yang ada.

 3.2. Program Imunisasi

Dalam upaya menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi dan anak balita dilaksanakan program imunisasi untuk penyakit – penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi ( PD 31 ) yaitu penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, Polio dan Cambak. Setiap bayi wajib mendapatkan imunisasi dasar yaitu HB 0, 1 kali ; BCG 1 kali ; DPT-HB 3 kali, Polio 4 kali ; dan Cambak 1 kali. Untuk menilai kelengkapan imunisasi dasar bayi dapat dilihat pada cakupan imunisasi DPT HB 3, Polio 4 dan Cambak.

Cakupan imunisasi DPT1 tahun 2009 sebesar 102,25 %. Sedangkan cakupan imunisasi cambak sebesar 101,7 %. Terdapat selisih antara cakupan Campak dan DPT1 sehingga ada anak balita yang tidak lengkap dasar imunisasinya.

Angka Drop Out ( DO ) imunisasi lengkap pada bayi di tahun 2009 sebesar 0,54 %. Kecilnya angka DO apabila dibandingkan tahun 2008 yang hanya 1,12 % perlu identifikasi penyebabnya lebih lanjut. Capaian DO tahun 2009 telah sesuai target nasional yaitu angka DO < 10 %. Angka DO tertinggi di Puskemas Bulu (9,46 %), Weru (3,53 %) dan Polokarto (1,53 %).

Hasil pelayanan iminisasi dapat juga dilihat capaian desa UCI. Target pelayanan imunisasi berdasarkan SPM adalah 100% desa UCI. Cakupan desa UCI tahun 2009 sebesar 91 %, hasil ini menurun apabila dibandingkan capaian tahun 2008 sebesar 99 %.

Adapun Puskesmas yang telah mencapai UCI 100 % antara lain Puskesmas Tawangsari, Mojalan, Gatak, dan Kartusura. Sedangkan Puskesmas dengan UCI terendah adalah Puskesmas Polokarto sebesar 71 %.


Gallery Foto
Copyright © 2017 All Right Reserved, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo.