Polling

Bagaimana Pendapat Anda mengenai kinerja DKK Sukoharjo?

Artikel

DIFTERIA

Kategori: Artikel, ditulis oleh Adminsitrator Website
Tuesday, 02 December 2014 12:32

Difteria berasal dari bahasa Yunani διφθέρα yang berarti sepasang gulungan kulit. Difteri adalah penyakit infeksi saluran nafas akut bagian atas yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheria yang bersifat sangat menular dan mematikan. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian pada anak di Negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Adanya satu kasus Difteria sudah termasuk KLB (Kejadian Luar Biasa).

  1. DEFINISI OPERASIONAL

Difteri adalah suatu penyakit yang ditandai dengan panas lebih kurang 38oC disertai adanya pseudomembran (selaput tipis) putih keabu-abuan pada tenggorokan (laring, faring, tonsil) yang tak mudah lepas dan mudah berdarah.

  1. Definisi Kontak : adalah seseorang yang tinggal serumah atau sepermainan atau kontak dengan sekret penderita
  2. Definisi Karier : adalah seseorang dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif tetapi tidak ada manifestasi klinis
  3. PENYAKIT DIFTERI
  1. Kuman penyebab       : Corynebacterium diphtheriae
    1. Klasifikasi
    • Kingdom       : Bakteri
    • Filum              : Actinobacteria
    • Kelas               : Actinobacteria
    • Order              : Actinomycetales
    • Keluarga        : Corynebacteriaceae
    • Genus              : Corynebacterium
    • Spesies          : Corynebacterium  diphtheria
  1. Morfologi
  • Bentuk batang, Gram Positif
  • Bergerak (-), Kapsul (-), spora (-)
  • Menghasilkan  eksotoksin
  • Tidak tahan asam
  • Menghasilkan  pseudomembran
  • Sifat Anaerob fakultatif (pertumbuhan maksimal pada keadaan  aerob)
  • Mati pada pemanasan 60˚C,
  • Tahan beku  &  kering
  1. Sumber penularan          : Manusia (penderita/carrier)
  2. Cara penularan                 :
    1. Kontak dengan penderita pada masa inkubasi
    2. Kontak dengan Carrier
    3. Melalui pernafasan (droplet infection, vomite, luka di tangan (difteri kulit) yang mencemari tanah sekitarnya.
  1. Masa inkubasi            : 2 – 5 hari
  2. Masa penularan          :
  • Dari penderita     : 2 – 4 minggu sejak masa inkubasi  sampai  hilangnya bakteri pada lesi (± 2 minggu)
  • Dari carrier       : bisa sampai 6 bulan
  1. TANDA DAN GEJALA
  • Demam lebih kurang 38oC (tidak > 38,9oC)
  • Nyeri tenggorok
  • Terdapat Pseudomembran  (putih keabu- abuan) pada laring/faring/tonsil/rongga  hidung, bersifat tidak mudah lepas & mudah berdarah
  1. FAKTOR RESIKO/PREDISPOSISI
  • Faktor sosial ekonomi
  • Overcrowding
  • Nutrisi yang jelek
  • Terbatasnya fasilitas kesehatan
  • Status imunisasi
  1. MANIFESTASI KLINIK
  • Difteri Ringan

      Difteri pada lidah, mulut dan tonsil tanpa Bullneck

  • Difteri Sedang

      Difteri pada laring dan faring, tanpa bullneck

  • Difteri Berat

Difteri pada laring/faring dan fausial/tonsil disertai bullneck atau sudah ada miokarditis (Nelson,1987)

  1. KLASIFIKASI KASUS
  1. Kasus Suspek

Adalah anak dengan gejala Laringitis, Nasofaringitis atau Tonsilitis dan adanya pseudomembrane.

  1. Kasus Probable

Adalah suspek difteri ditambah salah satu dari :

  •  Pernah kontak dengan kasus (<2 minggu)
  •  Ada didaerah endemis difteria
  •  Stridor , Bullneck
  •  Pendarahan Submucosa/petechiae pada kulit
  •  Gagal jantung
  •  Gagal ginjal akut
  •  Myocarditis dan/ kelumpuhan motorik 1 s/d 6 minggu setelah onset
  •  Kematian
  1. Kasus Konfirmasi

Adaah kasus probable dengan hasil isolasi positif C. difteriae yg toxigenic (usap hidung, tenggorok, ulkus kulit, jaringan, conjunctiva, telinga, vagina) atau serum antitoxin meningkat 4 kali lipat /lebih  (sebelum pemberian toxoid difteri /antitoxin).

  1. KOMPLIKASI
  1. Miokarditis
  2. Kelumpuhan palatum mole
  3. Paralisis otot mata
  4. Nefritis
  5. Paralisis extrimitas bilateral
  1. TATA LAKSANA KASUS
  1. Tindakan Khusus
  • Menetralisis toxin
  • Eradikasi kuman
  • Menanggulangi infeksi sekunder
  1. Segera diberikan ADS ( Anti Diphtheriae Serum) apabila diagnose telah ditegakkan dengan dosis sesuai tingkat/derajat beratnya penyakit.

Ketentuan pemberian ADS sebagai berikut :

  • Difteri ringan : nasal, faring, kulit, konjungtiva  diberikan   dosis 40.000 Unit
  • Difteri sedang (pseudomembran pd tonsil & laring) diberikan dosis 80.000 Unit
  • Difteria berat , pseudomembran meluas, anak toksik, bullneck  dapat diberikan sampai 120.000 unit
  1. Terapi antimicrobial
  • Penicillin Prokain  50.000 -100.000 IU/kgBB IM selama 7-10 hari (Maksimal 3 gram/hari)
  • Bila alergi PP beri Eritromisin 50 mg/kgBB PO 3-4 kali/hari selama 10 hari
  1. Terapi Kortikosteroid
  • Indikasi : difteri berat dan sangat berat
  • Prednison 2 mg/kgBB/hari selama 2 minggu
  • Masih kontroversi
  1. Tindakan Umum
  • Mencegah komplikasi
  • Memperbaiki/mempertahankan keadaan umum
  • Mengatasi gejala/akibat yang timbul
  1. Bed rest 2-3 mgg dalam ruang isolasi  (bila terjadi miokarditis, bed rest lebih lama)
  2. Bila ada tanda obstruksi jalan napas :
  • Oksigenasi
  • Trakeostomi (menurut Jackson II dan III) 
  1. Aspirasi sekret secara periodik (difteri laring)
  2. Pemberian cairan dan dietetik sesuai dengan kondisi (diet lunak, saring, cair, kalo perlu dengan sonde)
  3. Menjamin kemudahan defekasi (laksansia)
  4. Antitusif à mengurangi batuk (difteria laring)
  5. Sedativa à istirahatkan pasien

       Luminal 3-5 mg /kgBB/hari dibagi 3 dosis

  1. Imunisasi : 3 bulan setelah dinyatakan sembuh
  1. PENCEGAHAN
  1. Isolasi pasien

Isolasi diperlukan jika pada pemeriksaan sediaan ditemukan kuman C. diphtheria.

  1. Imunisasi
  2. Pencarian dan pengobatan karier
  1. PROGNOSIS

      Prognosis jelek tergantung pada :

  • Usia, Status gizi dan Status  imunitas
  •  Virulensi kuman
  •  Lokasi dan perluasan membran
  •  Kecepatan terapi & pemberian antitoksin
  •  Lama perjalanan penyakit (> 48 jam)
  •  Komplikasi yg terjadi
  1. PENUTUP

Pencegahan secara umum  dengan menjaga kebersihan, memberikan pengetahuan  pada masyarakat tentang bahaya difteri.  pentingnya imunisasi, menggalakkan program  imunisasi dasar, serta penegakkan diagnosis secepat mungkin untuk mencegah prognosis yang buruk serta penularan.

Artikel Lainnya

Artikel, Wednesday, 23 April 2014 14:46
Artikel, Wednesday, 04 February 2015 13:38
Artikel, Wednesday, 16 April 2014 14:50
Gallery Foto
Copyright © 2017 All Right Reserved, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo.