Polling

Bagaimana Pendapat Anda mengenai kinerja DKK Sukoharjo?

Artikel

OPTIMISME PENGEMBANGAN STBM DI KABUPATEN SUKOHARJO MELALUI EMPAT KUNCI

Kategori: Artikel, ditulis oleh Adminsitrator Website
Tuesday, 09 September 2014 11:33

Satu dari empat faktor yang berpengaruh pada kesehatan masyarakat adalah kondisi lingkungan, bahkan lingkungan sehat merupakan faktor pengaruh yang terbesar disamping tiga faktor lainnya yaitu perilaku, pelayan kesehatan dan keturunan. Berpijak dari konsep tersebut, maka pada saat ini pemerintah sudah tidak  ragu ragu lagi untuk menanamkan investasi dibidang sanitasi.  Berdasarkan perhitungan dan analisa yang dilakukan oleh ahlinya, investasi pada sektor sanitasi yang ditanam secara benar akan menghasilkan keuntungan  sebesar 41 kali lipat.

Keuntungan yang diperoleh dari investasi sanitasi memang tidak langsung berupa lembaran lembaran uang. Keuntungan ini lebih berupa penghematan anggaran untuk  kesehatan masyarakat maupun individu, kepercayaan dari para investor nasional, kenyamanan dan kelestarian lingkungan. Kondisi hygiene sanitasi yang layak juga mulai menjadi kebanggaan daerah sehingga beberapa kabupaten kota mulai mengejar gelar bergengsi sanitasi award. Upaya upaya apa yang dilakukan oleh beberapa kabupaten kota dalam mengembangkan STBM sehingga berhasil memperoleh gelar bergengsi “sanitasi award” ? Tentunya ada strategi, kiat kiat atau kunci yang mengantarkan pada keberhasilan tersebut.

Kunci Pertama : Dukungan Regulasi

 

Keberhasilan pengembangan STBM tentunya sulit dibayangkan jika tidak didukung oleh regulasi yang kuat. Ditingkat pusat payung hukum dalam pengembangan STBM sudah cukup kuat berupa Undang Undang Kesehatan no 36 tahun 2009, Permenkes no 3/2014 tentang STBM, RPJMN dan Renstra. Akan tetapi ditingkat provinsi dan kabupaten pada umumnya belum ada kebijakan khusus untuk pengembangan STBM.

Hal ini tentunya  menjadi salah satu penghambat. Agar STBM dapat terlaksana sesuai yang diharapkan, pemerintah daerah semestinya segera menyusun regulasi antara lain berupa peraturan daerah, perbup atau perdes. Dengan adanya regulasi diharapkan STBM akan menjadi priotitas program dan prioritas kegiatan hingga ketingkat desa/ kalurahan. Menjelang tahun 2015 sudah seharusnya Kabupaten Sukoharjo memiliki regulasi yang kuat dalam upaya pengembangan STBM.

Kunci Kedua : Kelembagaan Yang Kuat

Pengembangan STBM membutuhkan peran dari multisektoral yang secara garis besar mencakup pemerintah, swasta dan masyarakat. Gambaran peran berbagai kekuatan yang ada di kabupaten kota adalah sebagai berikut :

a.Pokja AMPL; merupakan kelompok kerja kabupaten kota yang susunanya mencakup unsur SKPD, lembaga swadaya, dunia akademisi tentunya memiliki potensi untuk menggerakkan komponen komponen yang ada untuk mendukung pengembangan STBM. Untuk tingkat kecamatan dapat dibentuk Tim STBM yang keanggotaanya juga mecakup unsur pemerintah dan lembaga swadaya.

b.Tim Penggerak PKK; dengan 10 program unggulannya, lembaga ini sangat berpotensi untuk menjadi kekuatan dalam pengembangan STBM karena memiliki struktur dan jejaring yang kuat mulai dari tingkat pusat hingga ke desa/kelurahan bahkan tingkat RT. Lembaga ini memiliki kader kader yang cukup terlatih dan telah terbiasa untuk memadukan dan mensinergikan berbagai program pembangunan termasuk didalamnya program hygiene sanitasi.

c.Pokja Sehat; lembaga ini juga memiliki jejaring di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa. Di tingkat kecamatan...dengan dimotori oleh Puskesmas, lembaga ini bergerak dan bersinergi untuk memandirikan masyarakat dalam menyikapi dan mengatasi permasalahan kesehatan yang salah satunya permasalahan kesehatan lingkungan. Diangkatnya DASIAT (Pemuda Siaga Sehat) ke permukaan sebagai cirikhas Pokja Sehat di Kabupaten Sukoharjo....diharapkan dapat pula menjadi komponen penguatan dalam pengembangan STBM.

d.Asosiasi BP SPAMS; di Kabupaten Sukoharjo...memasuki akhir 2014, lembaga ini memang belum kuat eksistensinya. Akan tetapi kedepan memiliki potensi dan peran yang kuat karena sesuai dengan tupoksinya menangani langsung permasalahan air bersih dan sanitasi. BP SPAMS adalah lembaga profit yang dengan kekuatan anggarannya dapat berkiprah lebih leluasa dalam pengembangan hygiene sanitasi.

e. Gerakan Pramuka; Sukoharjo telah menyatakan diri sebagai “Kabupeten Pramuka” dengan salah satu komponennya adalah Saka Bakti Husada. Salah satu krida dari SBH adalah Krida Bina Lingkungan Sehat yang diharapkan juga mempunya kontribusi kuat dalam pengembangan STBM di Kabupaten Sukoharjo.

f. PNPM P2KP; lembaga ini pemberdayaan masyarakat ini bergerak untuk menangani permasalahan sosial yang langsungsung dirasakan oleh masyarakat terutama masyarakat miskin. BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) yang ada didalamnya secara bertahap dan berkesinambungan menangani permasalahan masyarakat miskin disektor hygiene sanitasi. Dibeberapa desa/kelurahan di Kabupaten Sukoharjo, terbukti BKM juga telah mampu sebagai pelakasana program Pamsimas, SLBM,USRI dan RTLH.

Kunci Ketiga : Metodologi yang efektif

STBM sebagai suatu pendekatan, memerlukan suatu cara atau teknik agar konsep ini menjadi budaya bagi masyarakat.Beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah :

a.mudah dipahami dan berkembang; lima pilar STBM yang dikembangkan mudah dipahami oleh masyarakat dengan tingkat pendidikan paling rendah. Kampanye STBM tidak harus dilakukan oleh petugas kesehatan, tetapi dapat dikerjakan oleh pelaku dari lintas sektoral, natural leader, relawan atau kader kesehatan. Prinsip saling mengadvokasi dan menguatkan sangat dipentingkan. Dengan demikian walaupun lambat tapi pasti jejaring STBM akan semakin mengakar dan menjadi budaya masyarakat.

b.Inklusif; Pengembangan STBM menjadi tanggungjawab seluruh pemangku kepentingan pada semua tatanan. Kampanye STBM dilakukan secara terintegrasi dan sinergi dengan berbagai kegiatan yang ada di masyarakat baik berupa kegiatan sosial, keagamaan, pendidikan, olah raga, kesenian dan lain sebagainya.

c.Efisien; pengembangan STBM di design mengacu pada prinsip prinsip efisiensi. Bahan lokal, kearifan lokal dan teknologi tepat guna dan potensi lokal lainnya menjadi kata kunci.

d.Berdampak besar; secara berjenjang STBM dikembangkan untuk merubah perilaku individu dan keluarga. Dari keluarga keluarga yang sudah berubah terwujudlah perubahan komunitas...perubahan lingkup desa...lingkup kabupaten, provinsi  hingga berubahan nasional.

Kunci Keempat : Program dan pembiayaan yang memadai

Pengembangan STBM mencakup penguatan aspek kelembagaan, aspek perubahan perilaku dan aspek fisik atau tersedianya sarana. Untuk mewujudkan lingkungan yang sehat dibutuhkan pembiayaan yang cukup besar. Bagi MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah) hal ini tentunya sangat membebani sehingga manjadi alasan bagi komunitas tersebut untuk berperilaku tidak sehat dan tidak hygienis. Sebagai kabupaten peserta PPSP (Program Percepatan Sanitasi Permukiman), Kabupaten Sukoharjo dari tahun ke tahun mengalokasikan anggaran untuk peningkatan sanitasi. Mengingat keterbatasan anggaran yang dapat dialokasikan, maka Pemerintah Kabupaten Sukoharjo berupaya meraih dana dari pusat, lembaga donor, pihak swasta dan juga mendorong swadaya masyarakat. Dengan demikian secara bertahap terjadi peningkatan cakupan cakupan terkait indikator hygiene sanitasi.

Adanya dukungan yang kuat dari berbagai pihak, semoga pendekatan STBM di Kabupaten Sukoharjo dapat berkembang optimal dalam upaya menciptakan lingkungan yang sehat untuk mewujudkan masyarakat yang sehat. Sebagaimana kabupaten lain...Sukoharjo dapat memperoleh Sanitasi Award. Sanitasi adalah sebuah investasi untuk mewujudkan SUKOHARJO MAKMUR.

Artikel Lainnya

Artikel, Wednesday, 16 April 2014 14:50
Artikel, Tuesday, 21 October 2014 13:47
Artikel, Monday, 17 November 2014 14:52
Gallery Foto
Copyright © 2017 All Right Reserved, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo.