Polling

Bagaimana Pendapat Anda mengenai kinerja DKK Sukoharjo?

Artikel

POS PEMBINAAN TERPADU FAKTOR RISIKO PTM (PENYAKIT TIDAK MENULAR)

Kategori: Artikel, ditulis oleh Adminsitrator Website
Thursday, 04 December 2014 12:48

PENGERTIAN

Pos pembinaan terpadu (Posbindu) faktor risiko PTM adalah suatu bentuk pelayanan yang melibatkan peran serta masyarakat (kelompok masyarakat, organisasi, industri, dll) melalui upaya promotif-preventif untuk mendeteksi dan mengendalikan secara dini keberadaan faktor risiko PTM secara terpadu.

Penyelenggaraan deteksi dini faktor risiko PTM terpadu dilakukan oleh dan untuk masyarakat. Sistem manajemen dan pembiayaannya berdasarkan kesepakatan warga melalui rembug warga, dipertanggungjawabkan kepada masyarakat serta jadual dan jenis kegiatannya juga ditetapkan oleh masyarakat.

Kegiatan ini hendaknya diintegrasikan dengan Desa Siaga, bermitra dengan stake holder Desa Siaga seperti Forum Kesehatan Desa, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat, PKK, Koperasi, klinik swasta, takmir masjid, dll. Selain itu juga dilegitimasi dan difasilitasi oleh desa/kelurahan setempat dan didukung penuh oleh puskesmas, dinas kesehatan dan sektor terkait.

Kegiatan ini ditujukan untuk orang dewasa mulai umur 25 tahun, dengan penyelenggaraan kegiatan sebagai berikut :

  • Melakukan monitoring faktor risiko bersama PTM secara rutin dan periodik.
  • Melakukan konseling faktor risiko PTM seperti pola makan, kebiasaan merokok, aktifitas fisik/olah raga, kejadian stres, dll.
  • Penyuluhan dengan dialog interaktif yang dikondisikan sesuai masalah terbanyak pada kelompok tersebut.
  • Aktifitas fisik bersama seperti olah raga, kerja bakti, dll.
  • Rujukan kasus faktor risiko yang secara klinis tidak mampu diatasi di tempat tersebut.

TUJUAN

Tujuan dan manfaat penyelenggaraan Posbindu faktor risiko PTM adalah sebagai berikut:

  1. Mawas Diri

Faktor risiko PTM kebanyakan kurang/tidak menimbulkan gejala apalagi kalau faktor risiko tersebut relatif baru mengenai seseorang. Biasanya gejala awal akan muncul apabila paparan faktor risiko tersebut sudah manifes pada suatu penyakit. Dengan dilakukannya pemantauan pemeriksaan faktor risiko secara terus menerus dan periodik dengan kesadaran sendiri akan diketahui secara dini faktor risiko PTM, sehingga diharapkan dapat terkendali dan terhindar dari paparan faktor risiko tersebut untuk mencegah munculnya penyakit tidak menular.

  1. Membudayakan Gaya Hidup Sehat dalam Lingkungan yang Kondusif

Selama ini masyarakat masih terjebak dengan pola pikir bahwa makanan yang dimakan yang penting enak tanpa mempertimbangkan kandungan gizi dan zat-zat yang terkandung di dalamnya, seperti zat penyedap rasa, zat pewarna, zat pengawet dan zat-zat kimia berbahaya lainnya. Gaya hidup merokok juga merupakan kegiatan yang secara refleks dilakukan oleh sebagaian masyarakat tanpa mempedulikan betapa bahayanya kandungan yang ada dalam rokok terhadap kesehatan tubuh. Sebagian masyarakat juga masih belum mempunyai kesadaran yang tinggi bahwa olah raga sangat penting untuk meningkatkan kesehatan tubuh.

Dengan adanya pos pelayanan ini, masyarakat diharapkan membiasakan pola hidup sehat dimulai dari diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitarnya.

  1. Mudah Dijangkau

Kegiatan ini diselenggarakan di lingkungan tempat tinggal masyarakat/ lingkungan tempat kerja dengan jadual waktu yang disepakati secara bersama-sama.

  1. Murah Dilaksanakan

Pos pelayanan ini dilakukan oleh masyarakat secara kolektif dengan biaya yang disepakati/sesuai kemampuan masyarakat dengan fasilitator dari puskesmas dan Dinas Kesehatan.

  1. Metodologis dan Bermakna Secara Klinis

Kegiatan ini dapat dipertanggung jawabkan secara medis yang dilaksanakan oleh kader khusus dan bertanggung jawab yang dilatih tentang metode deteksi dini atau edukator pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular terpadu.

Gambar 1. Sistem Pelayanan Lima Meja pada Pelaksanaan

Pos Pembinaan Terpadu Faktor Risiko PTM

TENAGA YANG DIPERLUKAN

  1. Sebagai koordinator adalah tokoh/ketua kelompok masyarakat
  2. Sebagai motivator berasal dari anggota kelompok masyarakat yang aktif dan komunikatif
  3. Kader kesehatan terlatih
  4. Edukator/konselor terlatih yaitu :
    • Seseorang yang menjadi panutan masyarakat dalam berperilaku hidup sehat.
    • Komunikatif.
  5. Administrator
  6. Paramedis terlatih (sebaiknya dari masyarakat)
  7. Ditambah dengan ahli kesehatan masyarakat atau dokter

MONITORING FAKTOR RISIKO PTM

Monitoring atau pemantauan faktor risiko dilakukan secara rutin dan periodik. Secara rutin artinya pemeriksaan kondisi kesehatan diupayakan menjadi kebiasaan meskipun tidak dalam kondisi sakit. Sedangkan secara periodik yaitu pemeriksaan dilakukan secara berkala sesuai anjuran yang bermakna secara klinis. Secara jelas dapat dilihat pada tabel 1. di bawah ini.

Tabel 1. Anjuran Jangka Waktu Pemantauan

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN FAKTOR RISIKO PTM

Sasaran subyek pemeriksaan pada kegiatan pencegahan dan pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular adalah :

  • Pada orang sehat, agar seseorang yang sudah menjalankan gaya hidup sehat terjaga dari paparan faktor risiko. 
  • Pada orang dengan faktor risiko, dititikberatkan pada pengembalian dari kondisi berisiko kepada kondisi yang normal artinya mau dengan sukarela meninggalkan paparan faktor risiko.  
  • Pada penderita PTM, mengendalikan faktor risiko pada kondisi normal untuk mencegah terjadinya komplikasi kronik dan PTM lain seperti gagal ginjal, impotensi, jantung koroner, stroke dan lain-lain agar penderita tetap produktif.

Tabel 2. Kriteria Klinis Faktor Risiko PTM

Program PTM pada Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo terbilang masih baru sehingga banyal hal yang masih perlu pembenahan,  Kegiatannya masih mengandalkan Posbindu yang menjadi ujung tombak deteksi dini faktor resiko PTM dan jumlahnya masih sangat terbatas.

Artikel Lainnya

Artikel, Tuesday, 03 March 2015 14:34
Artikel, Monday, 15 December 2014 16:16
Artikel, Tuesday, 31 March 2015 15:45
Gallery Foto
Copyright © 2017 All Right Reserved, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo.