Polling

Bagaimana Pendapat Anda mengenai kinerja DKK Sukoharjo?

Artikel

PYRETHROID : INSEKTISIDA UNTUK FOGGING

Kategori: Artikel, ditulis oleh Adminsitrator Website
Monday, 08 December 2014 13:22
  1. Definisi Fogging

Fogging merupakan salah satu kegiatan penanggulangan DBD (Demam Berdarah Dengue) yang dilaksanakan pada saat terjadi penularan DBD melalui penyemprotan insektisida daerah sekitar kasus DBD yang bertujuan memutus rantai penularan penyakit. Sasaran fogging adalah rumah serta bangunan dipinggir jalan yang dapat dilalui mobil di desa endemis tinggi.

Pada tahun 2014 Kabupaten Sukoharjo melaksanakan fogging 149 kali. Bahan aktif yang digunakan dari tahun 2009-2014 adalah Sipermetrin, beberapa kali diselingi dengan bahan aktif Malathion dan Lamdacyhalotrin. Sipermetrin merupakan insektisida yang masuk dalam golongan Pyrethroid.

  1. Definisi Pyrethroid

Pyrethroid merupakan kelompok insektisida organik sintetik konvensional yang paling baru, digunakan secara luas sejak tahun 1970-an dan saat ini perkembangannya sangat cepat. Keunggulan sintetik pitretroid karena memiliki pengaruh “knock down” atau mematikan serangga dengan cepat. Tingkat toksisitas rendah bagi manusia.

Kelompok sintetik pyrethroid merupakan tiruan dari bahan aktif insektisida botani Pyrethrum yaitu Sinerin I yang berasal dari bunga Chrysanthenum cinerariaefolium. Sebagai insektisida botani pyrethrum memiliki keunggulan yaitu daya knockdown yang tinggi tetapi sayangnya di lingkungan bahan alami ini tidak bertahan lama karena mudah terurai oleh sinar ultraviolet. Kecuali itu penggunaan di lapangan kurang praktis dan mahal karena pyrethrum harus dahulu diekstrasi dari bunga Chrisantenum. Dari rangkaian penelitian kimiawi dengan melakukan sintesis terhadap susunan kimia pyrethrum dapat diperoleh bahan kimiawi yang memiliki sifat insektisidal mirip dengan piretrum dan bahan tersebut mempunyai kemampuan untuk bertahan lebih lama di lingkungan serta dapat diproduksi di pabrik. Jenis pestisida buatan yang mirip pyrethrum diberi nama pirethrin yang kemudian menjadi modal dasar bagi pengembangan insektisida golongan sintetik pyrethroid lainnya.

  1. Pyrethrum

Pyrethrum atau Chrysanthemum adalah tanaman dari famili Asteraceae. Pyrethrum pertama kali dibudidayakan di Cina pada 15 abad sebelum Masehi sebagai tanaman herba. Tanaman ini dibawa ke Eropa pada abad ketujuh belas. Linnaeus memberikan nama Chrysanthemum berdasarkan kata dari bahasa Yunani, chrysous yang berarti keemasan dan anthemon yang berarti bunga. Chrysanthemum memiliki berbagai macam kegunaan, yaitu sebagai tanaman dekoratif, bumbu masakan, dan sebagai insektisida alami.

Pyrethrum pertama kali digunakan sebagai insektisida alami di dataran Cina pada abad kesatu. Seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan Pyrethrum sebagai insektisida alami semakin meluas. Pyrethrum merupakan insektisida alami yang sangat banyak digunakan saat ini dan cukup efektif. Selain itu, Pyrethrum memiliki tingkat toksisitas yang rendah bila dibandingkan dengan insektisida sintetis sehingga relatif lebih aman bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Pada  Pyrethrum terdapat campuran senyawa pyrethrins dan cinerins. Pyrethrins adalah sepasang senyawa organik natural yang memiliki potensi aktivitas insektisidal. Pyrethrin I dan pyrethrin II memiliki struktur mirip ester dengan inti siklopropana. Pyrethrins bersifat tidak stabil, mudah didegradasi (biodegradable) dan dipecah ikatannya bila didedahkan pada cahaya atau oksigen. Karena itulah, pyrethrum lebih ramah lingkungan dibandingkan insektisida sintetis.

Pyrethrins  diekstrak dari kulit biji Chrysanthemum dan membentuk oleoresin yang tampak sebagai suspensi pada air atau minyak, atau dalam bentuk serbuk. Pyrethrins bekerja sebagai insektisida dengan cara menyerang sistem saraf semua serangga dan menghambat nyamuk betina untuk menggigit. Bila pyrethrins diberikan dalam dosis yang tidak begitu fatal bagi serangga, pyrethrins masih bekerja sebagai efek penangkal serangga. Bila dicampur dengan piperonyl butoxide atau piperonyl cyclonene, pyrethrins akan memiliki tingkat toksisitas lebih tinggi dan memproduksi aksi residual yang lebih lama dan dapat dipergunakan secara ekstensif dalam bentuk spray.

Pada mulanya, pyrethrum diekstraksi dengan cara menggiling bunga Chrysanthemum yang telah dikeringkan hingga menjadi serbuk. Namun, saat ini pyrethrum diekstraksi dari bagian tanaman Chrysanthemum dalam larutan. Proses yang meliputi pembuatan insektisida alami dari Pyrethrum adalah proses ekstraksi, purifikasi, identifikasi, sintesis, dan bioassay, serta evaluasi.

Proses  ekstraksi bertujuan untuk memperoleh metabolit sekunder pada tanaman Pyrethrum yang berfungsi sebagai insektisida alami, dalam hal ini pyrethrins. Dalam ekstrak yang diperoleh, masih terdapat campuran zat-zat lain (kontaminan), sehingga diperlukan proses purifikasi agar diperoleh zat pyrethrins yang murni. Selanjutnya, zat yang telah dipurifikasi akan diidentifikasi kemudian akan mengalami proses sintesis. Hasil dari sintesis zat tersebut akan mengalami percobaan, dan evaluasi. Bila dinilai layak, hasil sintesis dari pyrethrins tersebut sudah mampu untuk digunakan sebagai insektisida alami.

Penggunaan Pyrethrum sebagai insektisida alami dapat membantu menanggulangi masalah lingkungan dan meminimkan masalah kesehatan. Karena tingkat toksisitas Pyrethrum bagi manusia rendah dan mudah didegradasi di lingkungan (biodegradable). Selain karena keindahan bunganya, Pyrethrum merupakan solusi insektisida di masa depan.

  1. Struktur Kimia Pyrethroid

Pyrethroids adalah insektisida sintetik yang merupakan turunan dari 6 pyrethrin alami yang diisolasi dari pyrethrum (ekstrak tanaman bunga Chrysanthemum cinerariaefolium). Aktivitas insektisidanya berasal dari afinitasnya yang sangat tinggi terhadap Na+ -channels, yang dapat menyebabkan neuronal hyperexcitability. Pyrethroids ini dapat membunuh serangga dengan cepat dengan toksisitas rendah terhadap mamalia, biodegradibilitas dan selektivitasnya bagus.

Daftar Pustaka

  1. Anshori. J. A, 2009, Trend Baru dalam Pengendalian Hama:Pencarian Insektisida Ramah Lingkungan (Green Insecticides). Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran. Bandung
  2. Toksisitas Ekstrak Bungan Pyrethrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) Terhadap Mortalitas Larva Spodoptera litura (Noctuidae : Lepidoptera).

 http://file.upi.edu/Direktori/SPS/PRODI.PENDIDIKAN_IPA/196307011988031-SAEFUDIN/Toksisitas_Ekstrak_Bunga_Piretrum__Chrysanthemum_cinerariafolium__Terhadap_Mortalitas_Larva_Spodo.pdf

OLEH : Erna Handayani, SKM MSc

Artikel Lainnya

Artikel, Tuesday, 03 March 2015 14:34
Artikel, Wednesday, 26 November 2014 15:13
Artikel, Friday, 09 December 2011 15:32
Gallery Foto
Copyright © 2017 All Right Reserved, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo.