Dipublish 10 Agustus 2026 11:30 WIB
158
Banyak orang menganggap nyeri dan kaku pada lutut sebagai bagian wajar dari menua, lalu membiarkannya. Padahal keluhan ini bisa menjadi tanda osteoarthritis (OA) lutut, penyakit sendi yang paling sering menyerang lansia dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari jika tidak dikelola sejak dini.
Untuk membantu warga mengenali dan menangani keluhan ini, tim pengabdian masyarakat mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar penyuluhan dan pelatihan latihan mandiri bagi kelompok Prolanis di Puskesmas Nguter, Sukoharjo, pada 8 November 2025. Kegiatan ini diikuti 65 peserta.
Apa Itu Osteoarthritis Lutut?
Osteoarthritis lutut terjadi ketika tulang rawan yang melapisi sendi lutut menipis dan rusak. Tulang rawan berfungsi sebagai bantalan agar tulang tidak saling bergesekan saat bergerak. Ketika bantalan ini menipis, muncul keluhan yang khas: nyeri, kaku (terutama setelah lama diam), bunyi "kretek" saat lutut ditekuk, bengkak, otot paha melemah, hingga perubahan bentuk sendi pada kasus lanjut.
Keluhan ini bukan hal sepele. Secara global, osteoarthritis dialami sekitar 151 juta orang, dengan 24 juta di antaranya berada di Asia Tenggara, dan sekitar tujuh dari sepuluh kasus terjadi pada mereka yang berusia di atas 65 tahun. Di Indonesia, penyakit sendi diperkirakan dialami 7,3% penduduk, dan lebih banyak menyerang perempuan (8,5%) dibanding laki-laki (6,1%).
Siapa yang Lebih Berisiko?
Beberapa faktor membuat seseorang lebih rentan mengalami osteoarthritis lutut:
Menjaga berat badan ideal, tetap aktif bergerak, dan memperhatikan asupan gizi termasuk kecukupan vitamin D untuk kesehatan tulang adalah langkah pencegahan yang bisa dimulai dari sekarang.
Gerak Justru Membantu, Bukan Memperparah
Banyak penderita OA takut bergerak karena khawatir memperburuk nyeri. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Latihan penguatan otot dan aktivitas fisik yang terstruktur terbukti mampu mengurangi nyeri sekaligus memperbaiki fungsi sendi, sehingga direkomendasikan sebagai penanganan utama tanpa obat untuk osteoarthritis lutut.
Dalam kegiatan di Puskesmas Nguter, peserta diperkenalkan pada beberapa gerakan sederhana yang bisa dilakukan sendiri di rumah:
Latihan-latihan ini bertujuan menguatkan otot, menjaga kelenturan sendi, dan mengurangi nyeri serta kekakuan. Lakukan secara perlahan dan bertahap. Hentikan bila nyeri justru bertambah hebat, dan konsultasikan dengan petugas kesehatan atau fisioterapis jika ragu, terutama bila Anda memiliki keluhan lutut yang berat.
Hasil Kegiatan
Sebelum dan sesudah penyuluhan, peserta mengisi kuesioner untuk mengukur pemahaman mereka. Hasilnya, rata-rata jawaban benar meningkat dari 67,25% menjadi 93,8%, atau naik sekitar 26,55%. Peningkatan ini bermakna secara statistik. Materi disampaikan lewat presentasi, leaflet, dan video latihan agar mudah dipahami oleh peserta lansia melalui lebih dari satu indra.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi yang dikemas sederhana dan sistematis mampu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang osteoarthritis lutut. Dengan mengenali gejala lebih dini dan rutin melakukan latihan mandiri, penderita dapat menjaga kualitas hidupnya dan tetap aktif di usia lanjut.
Artikel ini disarikan untuk masyarakat umum dari publikasi pengabdian masyarakat: Habiba, C., Putri, H. A., Afanin, A. R., Putri, S. A., Handikawati, G. W., & Cahyanto, E. B. (2026). Penyuluhan dan Pemberian Exercise Osteoarthritis Lutut pada Kelompok Prolanis. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 10(3), 4140–4151.
Naskah ilmiah lengkap dapat diunduh di: Penyuluhan dan Pemberian Exercise Osteoarthritis Lutut pada Kelompok Prolanis | Habiba | JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri)