Dipublish 28 Agustus 2026 12:16 WIB
112
Ada kata dalam bahasa Jawa yang sering terdengar di antara keluarga pasien gangguan jiwa di Kecamatan Bulu: suloyo. Bukan sekadar kambuh. Suloyo adalah kondisi ketika obat terputus, gejala kembali, dan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) seolah dibiarkan sendirian, terabaikan oleh sistem, oleh tetangga, kadang bahkan oleh keluarganya sendiri yang lelah dan malu.
Di Puskesmas Bulu, seorang perawat bernama Eny Inhartati sudah bertahun-tahun menyaksikan pola itu berulang. Ia adalah Programmer Kesehatan Jiwa sejak 2019. Ia pernah ditolak di pintu rumah keluarga pasien. Pernah melihat angka capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) ODGJ Berat yang belum menyentuh seratus persen. Pernah menghadapi kasus pasung yang kembali muncul. Namun ia tidak mundur. Dari keprihatinan itu lahir sebuah gerakan yang diberi nama akrab: MAS WALOYO -- Bersama Masyarakat Kawal ODGJ Biar Tidak Suloyo.
Bukan Program di Atas Kertas
MAS WALOYO bukanlah inovasi yang lahir dari ruang rapat ber-AC. Ia tumbuh dari lapangan. Dari kunjungan rumah yang ditolak. Dari keluarga yang masih menganggap gangguan jiwa sebagai aib. Dari obat yang kadang kosong. Dari pasien yang sempat dipasung di dalam kamar, lalu perlahan-lahan bisa duduk di forum, memperkenalkan diri, dan tersenyum.
Intinya sederhana: memperkuat ketahanan komunitas desa dalam mendampingi ODGJ secara berkelanjutan. “Suloyo” dimaknai sebagai putus obat, kambuh, atau terabaikan akibat lemahnya dukungan dan pemantauan. Jawabannya bukan hanya di tangan petugas kesehatan, melainkan di tangan Bersama : kader desa, keluarga, perangkat desa, TNI-Polri, akademisi, dan jejaring layanan.
Membangun Jaringan yang Menjaga
Langkah pertama yang dilakukan adalah membentuk Tim Penanganan ODGJ di wilayah Puskesmas Bulu. Tujuannya jelas: pendataan dan pemantauan rutin, memastikan pengobatan berkelanjutan, mendukung reintegrasi sosial, serta menekan risiko kekerasan, pengabaian, atau penelantaran. Tim ini menjadi tulang punggung koordinasi.
Di Desa Tiyaran, pada 13 November 2024, diluncurkan Posyandu Jiwa Yogo Konco Sedulur Jiwa Raga Sehat, disingkat YKS WARAS. Nama yang terasa hangat, seolah mengajak ODGJ untuk tidak lagi sendirian. Setiap tiga bulan sekali, pasien yang sudah stabil diundang. Mereka diperiksa oleh dokter dan petugas kesehatan jiwa, didampingi bidan desa, kader, perangkat desa, dan keluarga. Ada senam bersama. Ada sesi berkenalan dan berbagi. Ada prakarya dan lomba. Bagi yang belum rutin berobat atau mengeluh, resep diberikan dan obat diambil melalui petugas kesehatan jiwa di Puskesmas. Posyandu Jiwa ini bukan sekadar tempat periksa. Ia menjadi ruang di mana ODGJ dilihat sebagai bagian dari komunitas, bukan beban yang disembunyikan.
Terapi Aktivitas Kelompok: Belajar Bersosialisasi Lagi
Sejak 2021, Puskesmas Bulu sudah menjalankan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) bagi ODGJ se-wilayah Kecamatan Bulu. TAK adalah bagian dari terapi modalitas dalam asuhan keperawatan jiwa. Aktivitas menjadi media; kelompok menjadi ruang belajar. Manfaatnya konkret: pasien belajar kembali bersosialisasi, memperkenalkan diri, dan membangun rasa percaya.
Pada 12 Oktober 2021, pertemuan kelompok pertama digelar. Pada 15 Oktober 2022, mereka melukis di atas caping, menggambar binatang, kebun, bunga, pegunungan, sesuai imajinasi masing-masing. Dana makan minum dan uang saku berasal dari BOK. Sarana melukis dan caping disiapkan sendiri oleh petugas kesehatan jiwa karena tidak ada anggaran khusus. Harapannya sederhana: pasien bisa lebih mandiri, beraktivitas sehari-hari, bahkan berkarya dan mencari penghasilan. Di antara peserta ada nama-nama yang sempat “hilang”. Ada yang pernah dipasung di kamar tersendiri. Kini mereka duduk di ruangan yang sama, memperkenalkan diri, dan tersenyum ketika namanya dipanggil.
Kunjungan Rumah, Kartu Kontrol, dan Forum Keluarga
Sistem pemantauan minum obat berbasis kunjungan rumah menjadi tulang punggung lain. Kader siaga jiwa dilatih. Kartu kontrol sederhana dibuat agar kepatuhan mudah dipantau. Forum dukungan keluarga digelar agar keluarga tidak merasa sendiri menanggung beban. Edukasi anti-stigma dan pelatihan keterampilan komunikasi empatik diberikan agar penerimaan sosial di masyarakat meningkat.
Integrasi rujukan dengan Puskesmas memastikan kontinuitas terapi. Rujukan tersedia 24 jam. MoU dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memperkuat TAK dan pelatihan kader. Kolaborasi lintas sektor seperti TNI, Polri, desa, kader, akademisi menjadi napas gerakan ini.
Di Desa Tiyaran, Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ) sudah terbentuk sejak 30 September 2019. Program berbasis masyarakat ini meningkatkan kesadaran, kemampuan, dan kemauan warga untuk mencegah, mendeteksi dini, serta menangani masalah kesehatan jiwa secara mandiri. MAS WALOYO menghidupkan kembali semangat itu dan memperluas jangkauannya.
Skrining di Mana-Mana
Skrining kesehatan jiwa tidak menunggu orang datang ke Puskesmas. Ia dilakukan di posyandu lansia dan balita, di sekolah, di kelas ibu hamil, di posyandu remaja malam minggu, bahkan di pertemuan RT malam hari dan jalan pagi setelah salat subuh. Melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), kecemasan dan depresi bisa terdeteksi lebih dini, dari anak-anak hingga lansia.
Penyuluhan Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) diberikan di SMAN 1 Bulu. Konseling dilakukan kepada siswa yang membutuhkan ruang untuk berbicara. Kesehatan jiwa tidak lagi menjadi topik yang dibisikkan di sudut ruangan; ia dibicarakan di tempat-tempat di mana orang berkumpul.
Hasil yang Mulai Terasa
Hasilnya tidak spektakuler dalam semalam, tetapi terasa di lapangan. Kepatuhan minum obat meningkat. Frekuensi kekambuhan menurun. Pandangan negatif di masyarakat berkurang. Kader menunjukkan ketangguhan yang lebih baik dalam menghadapi dinamika perilaku ODGJ. ODGJ yang terpantau menjadi lebih stabil, lebih produktif, dan tidak “suloyo”.
SPM pelayanan ODGJ Berat yang sebelumnya belum mencapai seratus persen mulai mendapat daya ungkit. Model ini menegaskan satu hal: kolaborasi lintas pihak dan inovasi sederhana yang kontekstual mampu menjaga ODGJ tetap stabil. Model yang sama berpotensi direplikasi di desa lain, dengan penyesuaian lokal.
Ketika Pintu Rumah Tertutup
Perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada keluarga yang menolak kunjungan karena malu. Ada obat yang sempat kosong dan harus diperjuangkan ke manajemen Puskesmas dan Dinas Kesehatan. Ada indikator kinerja yang sempat rendah dan bahkan menurun. Ada kasus pasung yang kembali muncul. Eny Inhartati memilih tetap datang. Tetap menjaga empati, bukan marah atau menjauh. Ia berusaha ikhlas. Dari penolakan itu ia belajar bahwa stigma tidak bisa dilawan dengan argumen saja—ia harus dilawan dengan kehadiran yang konsisten, dengan ruang yang aman, dan dengan komunitas yang mau mengawal bersama.
Pengakuan dari Provinsi
Pada 5 Agustus 2026, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mengumumkan hasil Penilaian Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026. Dalam kategori Tenaga Kesehatan Pengabdian Tanpa Batas di Puskesmas, nama Eny Inhartati, S.Kep., Ns dari Puskesmas Bulu, Kabupaten Sukoharjo, menempati Peringkat I.
Penghargaan akan diserahkan secara langsung pada puncak acara Peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah ke-81 di Boyolali, 19 Agustus 2026. Pengakuan ini bukan akhir dari perjalanan. Ia menjadi penegasan bahwa pengabdian yang lahir dari lapangan, dari kunjungan yang ditolak, dari kesabaran menghadapi stigma, dan dari kolaborasi dengan masyarakat, layak diangkat sebagai teladan.
Bagi Eny dan tim di Puskesmas Bulu, peringkat itu adalah tanggung jawab baru: menjaga agar MAS WALOYO tetap hidup, tetap relevan, dan tetap menjadi jembatan bagi jiwa-jiwa yang sempat terlupakan.
Pengabdian Tanpa Batas
MAS WALOYO adalah wujud Pengabdian Tanpa Batas. Bukan karena petugas bekerja tanpa jam, melainkan karena batasan antara “tugas formal” dan “kepedulian manusiawi” sengaja dicairkan. Jiwa yang terlupakan tidak lagi dibiarkan sendirian. Kader desa diajak menjadi penjaga. Keluarga diajak menjadi mitra. Masyarakat diajak melihat ODGJ sebagai tetangga yang bisa kembali produktif, bukan sebagai ancaman yang harus disembunyikan.
Di Puskesmas Bulu, gerakan itu terus berjalan. Tim penanganan aktif. Posyandu Jiwa YKS WARAS digelar tiga bulanan. TAK terus dilaksanakan. Kunjungan rumah lacak obat dilakukan. Skrining menyasar berbagai kelompok. Lintas sektor diajak duduk bersama.
Dan di suatu hari, mungkin di sebuah forum kecil di Desa Tiyaran atau di aula Puskesmas, seseorang yang dulu sempat dipasung akan berdiri, memperkenalkan diri, dan tersenyum. Saat itu, kata “suloyo” perlahan kehilangan maknanya. Karena ada yang mengawal. Bersama.
Catatan:
Artikel ini disusun berdasarkan Portofolio Tenaga Kesehatan Teladan Kategori Pengabdian Tanpa Batas serta Laporan Pelaksanaan Pengabdian Tanpa Batas dengan Inovasi “MAS WALOYO” (Bersama Masyarakat Kawal ODGJ Biar Tidak Suloyo) yang disusun oleh Eny Inhartati, S.Kep., Ns, Perawat Ahli Madya, Programmer Kesehatan Jiwa Puskesmas Bulu, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, Tahun 2026.
Pengakuan Peringkat I merujuk pada Surat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Nomor 400.9.13.2/1175/2026 tanggal 5 Agustus 2026 tentang Pemenang Penilaian Named Nakes Teladan Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026.